Lima Penulis Cerpen Indonesia Terbaik

%image_alt%

Cerpen Indonesia Terbaik Selamat pagi Anak-anak Alam! Atau, selamat siang, atau malam, atau sore –kapanpun kalian membaca undangan ini.

Jika kalian sedang membuka undangan Om ini, Om asumsikan kalian sedang kebingungan mencari referensi bahan bacaan dan memutuskan mencari di google (oh, betapa mudahnya mencari informasi sekarang!). Apa itu masalah? Tentu saja tidak. Tapi di tengah-tengah ke-terlalu-gampang-an mencari informasi itu, Om harap kalian bisa lebih selektif dalam menyaring informasi itu sendiri. Semisal kali ini, di mana Om akan memberikan informasi tentang Penulis Cerpen Indonesia Terbaik untuk kalian. Sebelumnya Om juga pernah mengundang kalian untuk tahu bagaimana Cara Menulis Cerpen Bagi Pemula dan beberapa Tips Menulis Cerpen Yang Baik, siapa tahu kalian tertarik membacanya.

Cerpen Indonesia Terbaik yang Om maksudkan dalam undangan ini, tidak mencakup keseluruhan penulis cerpen di Indonesia dari setiap era/angkatan Kesusastraan Indonesia. Untuk undangan kali ini, Om hanya mengambil Lima Penulis Cerpen Indonesia Terbaik dari angkatan 1960 – 1990. Untuk Periode sebelum dan sesudahnya, mungkin bisa kita bicarakan di artikel yang lain (supaya tidak terlalu panjang dan lebih memudahkan kalian mengetahui periodenya). Penentuan Penulis Cerpen Indonesia Terbaik ini Om lakukan berdasarkan pengalaman membaca, pendapat kritikus tentang suatu karya atau seorang penulis, dan pada akhirnya pendapat pribadi. Kalau begitu, tanpa berpanjang lebar lagi, inilah dia Lima Penulis Cerpen Indonesia Terbaik:

Danarto

danarto

Danarto lahir di Sragen, Jawa Tengah pada tanggal 27 Juni 1941 (umurnya sekarang sudah 75 tahun dan dia masih menulis). Kehidupan Danarto secara umum normal, dilahirkan oleh pasangan suami istri Jakio Harjodinomo yang bekerja sebagai mandor di sebuah pabrik gula dan Siti Aminah yang bekerja sebagai pedangan kain batik di pasar. Dari kehidupannya yang secara umum biasa itu, Danarto menjadi seorang penulis dan pelaku seni yang luar biasa karena sekolah (red. Belajar. Bukan sekolah dalam artian membayar uang ke lembaga tertentu dan bersikap santai tanpa mau belajar apa-apa).

Setelah lulus Sekolah Menengah Pertama, Danarto meneruskan peroses belajarnya di sebuah Sekolah Menengah Atas dengan mengambil bidang sastra (entah bagaimana sistem sekolah zaman dahulu sampai memiliki bidang seperti ini, menakjubkan). Setelah lulus SMA itu, Danarto kemudian melanjutkan belajar ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada tahun 1958-1961. Setelah masa itu, Danarto aktif bergiat di berbagai kegiatan kesenian. Sempat juga masa-masa mudanya dihabiskan oleh Danarto dengan menjadi seorang tukang poster di Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada tahun 1969-1974. Mungkin tidak masalah bagi Danarto. Toh masih terkait dengan kerja seni.
Danarto banyak menulis cerpen untuk media massa. Salah satu media yang banyak memuat cerpen Danarto adalah Horison (satu-satunya majalah sastra yang dimiliki Indonesia, dan kabar terbarunya majalah ini telah ditutup dan digantikan dengan Horison Online. Negara ini, Negara tanpa satupun majalah sastra). Salah satu cerpennya yang berjudul “Rintik” mendapat penghargaan dari majalah Horison pada tahun 1968. Kemudian cerpen-cerpen yang pernah ditulisnya dikumpulkan dalam satu antologi yang diberi judul “Godlob”. Dalam antologi tersebut, Danarto menghidangkan parable-parabel religius yang pernah ditulisnya. Cerpen-cerpennya menggambarkan eksistensi manusia, di mana manusia tersebut hidup dalam dua dunia: dunia nyata dan dunia tidak nyata, yang liar dan seringkali di luar nalar.

Putu Wijaya

putu-wijaya

I Gusti Ngurah Putu Wijaya, atau yang lebih akrab dipanggil Putu Wijaya, lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944. Sama seperti Danarto, umur Putu Wijaya sekarang sekitar 72 tahun dan dia masih aktif menulis.

Jika ada yang bertanya, siapa penulis cerpen Indonesia paling produktif, mungkin Putu Wijaya-lah orangnya. Memang, sejak remaja Putu Wijaya telah menunjukkan minatnya pada dunia sastra. Mulai dari Sekolah Menengah Pertama, Putu Wijaya telah menulis cerpen dan mempublikasikannya melalui media massa. Kecuali puisi, Putu Wijaya menulis hampir semua jenis tulisan. Om pernah mendengar cerita, kalau Putu Wijaya ini, bahkan ketika sakitpun tetap menulis. Katanya, “kalau tidak nulis malah tambah sakit.” Atau cerita dimana Putu Wijaya meminta istrinya untuk mengetik cerita yang disusunya. Jadi, ceritanya Putu Wijaya ini sakit, dan tidak kuat untuk menulis. Maka dia menceritakan cerita yang dikarangnya secara lisan dan istrinya yang menuliskan cerita itu untuknya. Benar tidaknya cerita ini Om belum tahu. Tapi kalau benar, wah, hebat sekali orang ini. Kalaupun tidak benar, tetap saja, hebat sekali orang ini!

Kuntowijoyo

kuntowijoyo

Seandainya bukan orang bergelar akademis, maka Kuntowijoyo adalah Kuntowijoyo. Tapi, Kuntowijoyo juga adalah Prof. Dr. Kuntowijoyo. Lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta pada 18 September 1943 dan meninggal pada tanggal 22 Februari 2005 pada umur 61 tahun. Seandainya masih hidup, mungkin Kuntowijoyo juga akan seperti Danarto dan Putu Wijaya: tetap menulis.

Sejak masih di Sekolah Menengah Atas, Kuntowijoyo telah fokus dalam kerja penulisan cerpen. Horison dan Kompas adalah dua media massa yang sering mempublikasikan karya dari Kuntowijoyo, Kemudian cerpennya yang berjudul “Laki-laki yang Kawin Dengan Peri” dan “Sampan Asmara dan Pistol Perdamaian” terpilih menjadi cerpen terbaik di media massa tersebut. Selain itu, cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta. Pada tahun 1999, Kuntowijoyo juga menerima SEA Write Award dari kejaraan Thailand, sebuah penghargaan untuk para penulis di daerah Asia Tenggara.

Budi Darma

budi-darma

Prof. Dr. Budi Darma, lahir di Rembang pada tanggal 25 April 1937. Umurnya sekarang 79 tahun, dan tebak, dia masih menulis cerpen sampai sekarang! Budi Darma mendapat gelar Profesor dalam bidang sastra dari Universitas Indiana, Bloomington, Amerika Serikat pada tahun 1980. Keseluruhan pendidikannya memang dikhususkan pada bidang sastra sejak tahun 1963 di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

Budi Darma sering kali dianggap sebagai pembaharu dalam prosa di Indonesia. Khususnya dalam teknik penulisan. Dia dianggap sebagai orang pertama yang berhasil menggunakan teknik kolase. Nah, Budi Darma ini adalah satu penulis yang paling Om gemari karya-karyanya dari semua penulis yang ada dalam daftar ini.

Menurut Budi Darma, sastra tidak perlu bersifat madya sehingga hanya menawarkan eksotisme sebuah lokus dari sesuatu –apapun itu. Karena itu, cerpen Budi Darma lebih mengarah pada cerita-cerita absurd tentang prilaku manusia, yang menurutnya memanglah absurd sebagai sebuah gejala umum. Salah satu antologi cerpennya yang terbaik adalah antologi berjudul “Orang-orang Bloomington”. Beberapa penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, SEA Write Award, dan Anugrah Seni Pemerintah RI pernah diraih oleh Budi Darma.

Arswendo Atmowiloto

arswendo-atmowiloto

Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 November 1948, Arswendo Atmowiloto sekarang ini berumur 67 tahun. Mungkin tidak setua penulis-penulis yang Om sebutkan di atas. Tapi, tentu saja, Arswendo juga masih aktif menulis. Dengan nama asli Sarwendo, Arswendo bekerja sebagai penulis dan wartawan yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar. Tapi karena tidak terlalu menyukai namanya sendiri, maka Arswendo mengubah ‘Sarwendo’ menjadi ‘Arswendo’ dimana dia hanya memindah huruf ‘S’ dari urutan pertama menjadi urutan ketiga. Tapi itu bukan masalah besar. Sarwendo atau Arswendo, Arswendo tetap menulis dan tulisannya baik. Dan tentu saja kita lebih mengenal Arswendo Atmowiloto ketimbang Sarwendo Atmowiloto –untuk yang pernah membaca karyanya.

Cerpen Arswendo sering kita temu menjadi salah satu cerpen terbaik pilihan Kompas. Yang menarik dari Arswendo, adalah dia pernah dipenjara selama lima tahun karena suatu jejak pendapat yang menjadi sebuah kekacauan. Saat itu Arswendo menjabat sebagai redaktur dari tabloid Monitor. Tabloid ini kemudian mengadakan jejak pendapat prihal siapa yang menjadi tokoh bagi para pembacanya. Arswendo kemudian terpilih ke dalam 10 besar tokoh pilihan pembaca di mana dirinya, pada posisi ke sepuluh, berada satu tingkat di atas Nabi Muhammad yang berada di posisi ke sebelas. Hal ini kemudian menyebabkan masyarakat muslim Marah dan menyebabkan Arswendo diproses secara hukum sampai divonis dengan 5 tahun penjara. Di dalam penjara tersebut Arswendo masih aktif menulis novel, artikel, sekenario, dan sejumlah cerita bersambung yang dikirimnya ke berbagai media massa dengan nama samaran.

Nah, itulah dia Lima Penulis Cerpen Indonesia Terbaik periode1960-1930. Om masih terkagum, bagaimana mereka semua masih tetap aktif menulis dan menghasilkan karya dengan kualitas yang apik sampai sekarang, setelah beberapa dekade berlalu. Tentu saja mereka mencapai pengakuan dari berbagai pihak bukan dengan bersantai-santai, tapi dengan penuh dedikasi dan kesadaran pribadi untuk menjaga kualitas tulisan mereka. Dan untuk kita, mungkin kita perlu memikirkan lagi arti kata “dedikasi” dan memperbaiki terus kualitas pribadi kita. Bagaimana caranya? Seperti kelima penulis cerpen terbaik Indonesia kita di atas. Tentu saja dengan, belajar, belajar, dan belajar. Apa kalian setuju dengan daftar yang Om susun? Jika kalian punya tokoh lain, silahkan tambahkan supaya Anak-anak Alam yang lain mengenal lebih banyak orang-orang hebat. Sekian undangan dari Om. Selamat menikmati hari.

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *