Cara Menulis Puisi

Menulis Puisi – Selamat pagi Anak-anak Alam! Selamat menikmati hari ini. Pada pertemuan kita kali ini, Om asumsikan jika kalian sedang membaca undangan ini, itu artinya kalian sedang (atau selalu) tertarik dalam kerja menulis, khususnya menulis puisi. Pada kesempatan lain Om pernah membahas apa itu puisi dan juga genrenya. Jika ingin melanjutkan pembahasan kita kali ini, mungkin kalian perlu membaca undangan Om sebelumnya itu terlebih dahulu.

Kerja menulis puisi memang selalu mendapat paradoksnya sendiri. Dia sering dianggap gampang-gampang saja untuk dilakukan di satu sisi, dan di sisi lain sangat sulit. Seorang penyair sendiri memiliki kebebasan tersendiri untuk menciptakan bentuk puisinya. Ini akan menyangkut jenis dan genre puisi yang ditulis tersebut. Bahkan sekarang ada genre puisi baru yaitu puisi esai, dimana penyair menulis puisinya serupa atau bahkan sama persis seperti sebuah esai. Rumit memang, bukankah puisi adalah puisi, dan dengan alasan apa esai dapat disebut puisi. jika tertarik cobalah kalian cari refrensi tentang ini, ada banyak perbedatan tentang munculnya puisi esai ini.

Kita lewati dulu gejolak yang sedang terjadi di dunia perpuisian. Pembukaan yang sedikit panjang mungkin. Sebenarnya Om hanya sedang bersemangat, karena Om sendiri juga sedang tertarik untuk mempelajari masalah kerja menulis puisi ini. Nah, untuk itu, ada beberapa hal yang ingin Om bagikan untuk kalian, ini oleh-oleh dari perjalanan Om yang baru, yaitu tentang cara membuat atau menulis puisi. Kita langsung saja mulai dari:

Puisi Bukan Sekedar “Kata-kata indah”

Banyak orang yang beranggapan bahwa menulis puisi itu sederhana dan gampang. Kebanyakan orang (dan memang ini kenyataannya) merasa sah-sah saja menamai sebuah tulisan sebagai puisi. Jadi, Om ingin bertanya, Apa kalian termasuk orang itu? jika iya, jika kalian salah satu dari orang-orang yang menganggap semua kalimat indah adalah puisi, lalu kenapa repot-repot?

Menurut Om ini penting untuk dibahas, jika kalian berniat serius menekuni kerja menulis puisi. Dalam buku Aku Ini Binatang jalang; Chairil Anwar, Nirwan Dewanto dalam kata pembukanya mengatakan

“PUISI yang unggul bukan hanya puisi yang minta dibaca ulang terus-menerus, namun juga yang mengubah cara kita membaca dan menulis.”

Kata pembuka yang disampaikan Nirwan Dewanto itu dilanjutkan kembali dengan

“Saya tidak mengatakan bahwa puisinya sempurna. Dengan ketidaksempurnaannya dalam beberapa segi, sajak-sajak Chairil tetap membayangkan potensi kebangkitan lebih lanjut: yakni bahwa untuk mencapai kepadatan dan kebulatan, puisi boleh “melanggar” tata bahasa. Cacat yang dihasilkannya adalah apa-apa yang mesti dipertimbangkan oleh para penyair yang datang kemudian.

Sudah barang tentu pelanggaran demikian hanya bisa dilakukan oleh ia yang gandrung benar akan bahasa; ia yang pandai memiuhkan hokum bahasa untuk menampilkan dunia secara lain; ia yang berpikir tentang bahasa. Seorang penyair modern pada dasarnya adalah perajin dan pemikir sekaligus: sebagai perajin ia selalu bermain dan bertarung dengan berbagai “teknik” yang disediakan para pendahulu yang sudah ia pilih berdasarkan aspirasinya; dan sebagai pemikir ia mencerna berbagai khazanah pustaka, yang memungkinkan ia melengkapkan dan mengorksi sastra sebelumnya. Ia tidak meradang dan menerjang: ia percaya bahwa “pikiran berpengaruh besar pada hasl seni yang tingkatnya tinggi”; berkreasi baginya adalah “menimbang, memilih, mengupas”, bukan berimporvisasi, bukan “dipengaruhi hukum wahyu”, bukan “kerja setengah-setengah”.

Jika semua kalimat indah kalian sebut sebagai puisi, maka biarkan saja kata-kata pada kalimat itu bunuh diri. Agar kalian tahu, yang mati juga punya sisi indahnya sendiri, dan makna yang kalian indah-indahkan itu, pahamilah sebagai sangkar (yang mengungkung) bagi pengertian. Orang yang dibicarakan pada kutipan diatas adalah Charil Anwar, seseorang yang mendedikasikan hidupnya memang untuk dunia kepenyairan. Sejalan dengan itu, Sutardji Calzoum Bachri juga menulis dalam kredonya pernyataan tentang hal ini.

“Dalam keseharian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.

Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.”

Dan apa yang seringnya kita lakukan? Kebanyakan orang yang ingin menulis puisi memulai dengan berusaha memikirkan keindahan cara mereka menyampaikan “makna”. Kalimat Aku merindukanmu wahai bulan purnama, cintaku adalah lautan yang kubawa padamu… sah-sah saja untuk disebut puisi. Tapi Om tidak akan menjadi seorang juri kata-kata indah atau tidak indah di sini. Itu adalah kebebasan kalian sendiri setelah ini untuk memilih menulis apa, dan menilai tulsan kalian sendiri. Coba perhatikan puisi berikut ini:

Kesendirian

seorang anak tidur gelisah

ketika tangan kecilnya menggapai-gapai ke sebelah

tak didapatinya ibunya di sana

Dalam Hujan

payung besar ini

terlalu besar

untukku sendiri

Penyair sah-sah saja menulis puisi dengan teknik apapun. Dua puisi diatas adalah puisi karya Hazim Amir. Saat istrinya meninggal ia menulis puisi yang merupakan rekaman kejadian, atau sebut saja, teknik yang digunakan untuk menulis puisi diatas hanyalah dengan merekam sebuah kejadian dan menuliskannya apa adanya. Hazim Amir ini sendiri pernah mengatakan;

“Pada tanggal 2 Maret 1984 istriku meninggal dunia. Tiba-tiba saja timbul keinginan untuk menceritakan peristiwa itu dalam bentuk “puisi”. maafkan aku kalau “sajak-sajak” tersebut terasa tidak puitis; tak akan kamu temui kata-kata puitis dalam “sajak-sajak” tersebut; juga ide-ide besar. Aku tidak sedang berusaha untuk menciptakan puisi; aku hanya sedang merekam suatu peristiwa (Amir, 1997: xv)

Begitulah, puisi bukanlah sekedar tentang kata-kata indah. Ada sesuatu yang lebih tentang yang dimaksud dengan “keindahan” dalam puisi. Dan yang terakhir yang ingin Om berikan untuk kalian pada bagian ini adalah kutipan sebuah surat yang dikirim oleh Chairil Anwar (kenapa Chairil Anwar? Karena orang yang satu ini adalah salah-satu penyair kesukaan Om) kepada H.B Jassin, seorang kritikus sastra yang terkenal di Indonesia bahkan dunia. Suratnya berbunyi seperti ini:

(Kartu pos, 11 Maret 1944)

d/a R.M. Djojosepoetro

Paron

Jassin,

Kubaca sajak-sajakku semua. Kesal aku, sekesalnya…, jiwaku tiap menit bertukar warna, sehingga tak tahu aku apa aku sebenarnya…

10 April 1944

Jassin,

Yang kuserahkan padamu -yang kunakaman sajak-sajak!- itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru.

Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa “tingkat percobaan” musti dilalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya.

Ch. Anwar

Sampai disini. Apa pendapat kalian? Om harap setelah ini kalian dapat membaca ulang lagi puisi-puisi kalian tentunya. Kita lanjutkan ke bagian berikutnya.

Makna: Puisi Sebagai Pembawa Pesan dan Pemberi Nama

Seperti yang Om sebutkan sebelumnya, kebanyakan orang yang ingin menulis puisi memulai dengan berusaha memikirkan keindahan cara mereka menyampaikan “makna”. Yang menjadi masalah, ini terkadang hanya dipraktikan sebagai praktek menulis kalimat indah, dan tentu saja memiliki kecendrungan hanya sampai pada kalimat-kalimat monosmantik atau satu makna. Kita lupa, bahwa keindahan puisi justru terletak pada tanfsirannya yang lebih dari satu. Ada beberapa kecendrungan yang dimiliki oleh bahasa dalam puisi, salah satunya adalah bersifat asosiatif. Asosiatif disini berarti kemampuan untuk membangkitkan pikiran dan perasaan yang merembet, tetapi masih berkisar di seputar makna konvensionalnya atau makna konotatifnya yang sudah lazim. Dengan demikian bahasa puisi mempunyai kegandaan tafsir (Jabrohim, 2001:59).

Tafsiran dalam puisi tentu saja mempengaruhi interpretasi pembaca. Pesan yang diterimapun akan beragam bentuknya. Pertanyaannya, apa itu masalah? Tentu saja tidak! Justru disanalah letak keindahannya. Kalian harus mencoba untuk merayakan kemerdekaan memaknai, karena sebenarnya makna tidak boleh tunggal. Bayangkan jika kalimat “Aku ini binatang jalang” yang terdapat pada salah satu puisi yang paling terkenal di Indonesia benar-benar memiliki makna seorang binatang jalan sesuai dengan makna leksikalnya, itu menjadi hambar, hanya sebatas penjelasan bahwa dirinya adalah seekor binatang yang jalang. Tapi keindahan justru muncul karena makna konotatifnya, Aku ini binatang jalang kemudian dapat berarti orang yang benar-benar merdeka, tegas, mandiri, dan memiliki keyakinan yang kuat tentang apa yang dianggapnya benar.

Karena itu, jika kalian ingin menulis puisi, berusahalan untuk menulis bagian paling dalam dari apa yang sedang kalian pikirkan (ide tulisan kalian). Contohnya, jika ingin menulis puisi tentang pernikahan, kalian bisa untuk tidak memulainya dengan menuliskan pengertian pernikahan sesuai pengertiannya, tapi cobalah untuk menggambarkan pernikahan itu dengan cara lain yang lebih mendekati hakikatnya. Jika penulis lain menulis pernikahan sebagai dua orang yang akhirnya bersatu dan diindah indahkan, kalian bisa coba menulis pernikahan sebagai proses saling menipu yang dilakukan dua orang hingga mereka bersatu, karena bukankah “rayuan” yang dilakukan selama ini sampai seorang laki-laki mendapatkan istrinya hanyalah sebuah penipuan dalam artian tidak dapat dibuktikan sebelum mereka benar-benar menikah. Sepertinya Om ingin tertawa. Maaf jika terlarut dalam emosi pribadi, karena Om juga sebenarnya sedang ingin menikah (sekali lagi maaf, jika kalian malah terlibah dalam curhatan pribadi).

Baiklah, intinya puisi adalah pembawa pesan yang membebaskan pembacanya untuk menerima pesan dalam bentuk apa dan dengan cara apa. Bukan buku pelajaran yang menjelaskan dengan sistematis dan pengertian absolut tentang suatu masalah. Puisi itu indah karena pesan yang dibawanya memiliki ruang rahasia yang perlu diungkap sendiri.

Selain penafsiran pesan yang Om bahas di atas, hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah fungsi dari puisi itu sendiri. Mana yang kalian pilih, puisi sebagai penjelas dari apa yang sudah ada atau puisi sebagai penjelas dari yang belum ada? Menurut Om, kebanyakan penulis puisi menjadikan puisinya sebagai penjelas bagi apa yang sudah ada. Penjelas dari kematian, rasa sakit, politik, kemanusiaan, semangat, dan lain-lain. Padahal puisi yang berhasil seharusnya memberi nama pada hal-hal itu. Puisi berfungsi memberikan nama untuk sesuatu yang belum dimengerti. Ini pendapat pribadi Om, selanjutnya jika kalian sependapat mari kita pahami sama-sama. Tapi jika kalian tidak sependapat, lewati saja bagian ini. Dan kita lanjutkan ke bagian berikutnya.

Menulis Puisi

“Memahami puisi ibarat menembus kabut pagi. Kabut pagi yang indah itu selalu menghadirkan kesamaran, keremang-remangan. Tak bisa secara mudah kita menebak apa atau siapa yang berada di wilayah samar itu. bahkan, jika kita tidak berhati-hati bisa jadi akan menabrak sana-sini. Kabut yang indah itu seringkali juga membahayakan. Oleh karena itu betapa petingnya kita membangun kepekaan kita, membangun perasaan kita, dan membangun keterampilan kita dalam mengurai kabut itu. (Tjahjono, 2003:3).”

Dari kutipan di atas, setidaknya itulah gambaran bagaimana proses menulis puisi menghasilkan sesuatu nantinya. Puisi terasa remang-remang dan menyimpan ruang rahasianya sendiri, dan untuk itu, jika pembaca membangun keterampilan untuk mengurai kabut, maka penulis peisi haruslah menjadi pencipta kabut yang menyimpan rahasia itu. ada beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam kerja menulis puisi, antara lain:

Memperhatikan Lapisan

Ada beberapa lapisan yang dimiliki oleh puisi. Menurut Roman Ingarden sebuah karya sastra tidak hanya merupakan satu sistem norma, melainkan terdiri atas beberapa lapis norma (Pradopo, 2007:14), lapisan tersebut dimulai dari: (1) lapisan bunyi, yaitu lapisan pertama dalam sebuah puisi, puisi merupakan satuan bahasa yang memperhatikan aspek bunyi sebagai fungsi estetiknya, keindahan bisa didapat salah satunya dengan memperhatikan unsur bunyi baik yang berbentuk aliterasi (persamaan konsonan), asonansi (persamaan vokal), rima akhir (persamaan bunyi akhir), rima tengah, dan rima awal. Sebagai contoh, kalian bisa membaja Sajak Putih karya Chairil Anwar; (2) lapis arti, yaitu lapisan kedua dimana semua satuan dalam bahasa mulai dari satuan terkecil yaitu fonem sampai pada kalimat yang utuh diperhatikan penggunaannya, karena kesemua itu memiliki arti, pada lapisan ini pencarian makna mulai dilakukan; (3) dunia pengarang, yaitu lapis ketiga dimana puisi adalah sebuah dunia lain yang ditawarkan oleh pengarangnya, dunia di dalam sebuah puisi adalah dunia linear yang menyimpan rahasianya sendiri; (4) lapis “dunia” yaitu lapisan keempat yang berupa hal-hal yang tidak perlu dinyatakan tertapi sudah jelas maksudnya, contohnya pada salah satu puisi dengan bait ngeri ini luka sekali lagi ternganga, disana tidak dijelaskan bahwa dia masih hidup atau dia merasa sakit. Tapi kita mengerti yang terluka pastilah masih hidup dan dia pasti sedang merasa sakit; (5) lapis metafisik, adalah lapisan terakhir dimana puisi mencapai tujuannya untuk menjadi bahan perenungan bagi orang yang membacanya.

Diksi dan Pilihan Kata

Pemilihan diksi akan berhubungan dengan pengimajian yang kita lakukan. Contohnya untuk mengambarkan rasa cinta kita pasti akan banyak menggunakan kata-kata yang mengarah pada tema itu. Untuk apa? Tentu saja untuk membawa pembaca membayangkan hal tersebut (rasa cinta). Di dalam puisi diperlukan kekonkretan gambaran, maka ide-ide abstrak yang tidak dapat ditangkap dengan alat-alat keinderaan digambarkan dengan diksi dan pilihan kata yang sesuai untuk ide-ide abstrak tersebut.

Ada beberapa pengimajian yang dapat dilakukan, yaitu:

  1. Citraan pengelihatan, yang dihasilkan dengan memberi rangsangan indera pengelihatan sehingga hal-hal yang tidak terliaht seolah-olah kelihatan.
  2. Citraan pendengaran, yang dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara atau berupa onomatope dan persajakan yang berturut-turut.
  3. Citraan penciuman, yang dihasilkan dengan menyebutkan kata-kata tentang aroma semisal wangi, bau, harum, dan lain-lain.
  4. Citraan pencecapan, yaitu cintraan tentang rasa.
  5. Citraan rabaan, yaitu citra yang berupa rangsangan-rangsangan kepada perasaan atau sentuhan.
  6. Citraan pikiran/intelektual, yaitu citraan yang dihasilkan oleh asosiasi pikiran
  7. Citraan gerak, yang dihasilkan dengan cara menghidupkan dan memvisualkan sesuatu hal yang tidak bergerak menjadi bergerak.

Selain itu, dalam menentukan diksi dan pilihan kata cobalah untuk menggunakan kata konkret. Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Si sini penyair berusaha mengkonkretkan kata-kata, maksudnya kata-kata itu diupayakan agar dapat merujuk kepada arti yang menyeluruh. Dalam hubungannya dengan pengimajian, kata konkret merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian.

Bahasa Puisi

Bahasa puisi bukanlah bahasa prokem atau bahasa sehari-hari. Dia memiliki karakteristik tersendiri. Bahasa puisi itu berirama. Rama terbentuk dari perulangan bunyi yang sama atau sedaerah artikulasi. Dalam puisi lama, pantun misalnya, perulangan bunyi itu sangat terpola. Pola irama dalam puisi lama sering disebut pola persajakan atau rima. Ini berhubungan dengan apa yang kalian sebut sajak, Om akan menyinggung sedikit tentang penulis yang sedikit-sediki memberi nama tulisan mereka sebagai sebuah Sajak. Sajak dalam pengertiannya harusnya berarti pola puisi yang memperhatikan bunyi, tapi sekarang kata-kata indah juga sering kali dengan mudahnya mendapat julukan sajak.

Dalam puisi lama perulangan bunyi itu telah diatur sedemikian rupa oleh suatu kaidah sehingga terkesan membelenggu dan kurang dinamis. Para penyair modern berusaha membangun irama secara lebih kreatif sebagai cermin kebebasan berekspresi. Irama tidak lagi disusun atas dasar pola persajakan tertentu. Bagi penyair sekarang irama bisa dibagun dengan cara mengulang bunyi tertentu, dimana pun posisi bunyi itu dalam baris atau kalimat.

Selain itu puisi juga sering mengandung bahasa kiasan atau bahasa figuratif. Kalian bisa melihat banyak contoh puisi yang menggunakan majas. Tentu saja, teknik ini juga dapat kalian praktikkan. Ada beberapa contoh majas, misalnya simile yang menyamakan satu hal dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama, metafora, personifikasi, epik-simile, metonimi, sinekdoki, dan lain-lain.

Tipografi

Tipografi merupakan pembeda yang paling awal dapat dilihat dalam membedakan puisi dengan prosa fiksi dan drama. Karena itu ia merupakan pembeda yang sangat penting. Dalam prosa (baik fiksi maupun bukan) baris-baris kata atau kalimat membentuk sebuah periodisitet. Namun, dalam puisi tidak demikian halnya. Baris-baris dalam puisi membentuk sebuah periodisitet yang disebut bait.

Atas dasal hal demikian itu, maka muncul berbagai macam tipe atau bentuk puisi. Ada bentuk-bentuk tradisional da nada pula bentuk-bentk yang menyimpang dari pola tradisional. Baris-baris puisi tidak diawali dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan. Tepi sebelah kiri maupun kanan sebuah baris puisi tidak harus dipenuhi oleh tulisan, tidak seperti halnya jika kita menulis prosa. Selain itu, awal baris tidak selalu ditulis dengan hurup kapital. Pada bagian ini enjambemen juga bisa diperhatikan, enjambemen adalah peristiwa sambung menyambung isi dua larik sajak yang berurutan. Contohnya pada puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar, berikut kutipannya:

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Jika ditulis menurut kaidah bahasa yang benar seharunya bait puisi tersebut berbunyi:

Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali.

Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

Namun oleh penulis puisi tersebut diberi enjambemen sehingga tipografinya menjadi seperti pada kutipan pertama. Kenapa? Kalian bisa menjawab sendiri, mana yang lebih memenuhi keindahan sebuah puisi?

Sarana Retorika

Dalam kaitannya dengan puisi, sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan muslihat itu para penyair berusaha menarik perhatian, pikiran, sehingga pembaca berkontemplasi dan tersugesti atas apa yang dikemukakan oleh penyair. Pada umumnya sarana retorika menimbulkan ketegangan puitis, karena pembaca harus memikirkan efek apa yang ditimbulakan dan dimaksudkan oleh penyairnya.

Puisi adalah sarana retorika, sedangkan ber-retorika artinya melakukan muslihat pikiran. Muslihat pikiran ini berupa bahasa yang tersusun untuk mengajak pembaca berpikir. Sarana retorika berbeda dengan bahasa kiasan atau bahasa figurative dan citraan. Bahasa figurative dan citraan bertujuan memperjelas gambaran atau mengkonkretkan dan menciptakan perspektif yang baru melalui perbandingan, sedangkan sarana retorika adalah alat untuk mengajak pembaca berpikir supaya lebih menghayati gagasan yang dikemukakan.

Teknik Menulis Puisi

Setelah memahami apa yang Om sampaikan sebelumnya di atas (secara panjang lebar Om rasa). Sekarang kita bisa meneruskan pada praktiknya. Kalian ambilah secarik kertas dan alat tulis, sekarang kita akan menulis sebuah puisi (tada…).

Ada beberapa hal yang dapat kalian perhatikan dalam memulai menulis puisi, yaitu:

Bahan Puisi

Banyak hal yang dapat kita tulis menjadi puisi. hanya saja kita dituntut untuk peka bagian mana dari sebuah kejadian yang bisa kita kembangkan untuk menjadi puisi itu. Dan sejalan dengan itu, kepekaan itulah yang membedakan seorang penyair dengan manusia lain. Dan kenyataannya, kita memang akan menulis hal yang lain daripada yang lain. Apa kalian tahu, bahwa puisi adalah konstruksi seni paling tinggi di dunia? Dan itu artinya, puisi adalah produk seni yang paling susah untuk dilahirkan di dunia ini.

Kalian dapat menulis puisi dari bahan perenungan yang ada dalam pikiran kalian, atau apapun yang dapat kalian pikirkan. Banyak teori yang mengatakan bahwa menulis puisi dapat dimulai dari mencari tema padalah tema itu sendiri amatlah abstrak. Kalian dapat mengangkat tema tentang cinta, keadilan, penderitaan, kematian, penghianatan, dan lain-lain yang sudah rubuan bahkan jutaan atau miliaran orang yang sudah menulisnya. Karena pada praktiknya, yang kita tulis bukan tema, dami sisi mana yang menarik dari tema yang ingin kita angkat itu. Puisi dapat dimulai dari mana saja. Bahan puisi adalah realitas kehidupan, pengalaman kalian sehari-hari juga bisa dijadikan sebuah puisi.

Bentuk Ekspresi

Bentuk ekspresi menyangkut ciri visual puisi. Bagaimana kita menulispuisi, dalam arti menata hurufnya secara grafis. Puisi secara visual dibentuk oleh larik dan bait. Pada umumnya satu bait mengandung satu pokok pikiran. Fungsi bait tak jauh berbeda dengan fungsi paragraf dalam karya paparan. Satu bait dapat terdiri atas atu larik atau lebih.

Pengembangan Bahan

Puisi sebenarnya bukan sekedar ungkapan perasaan penyair, tetapi juga pemikirannya. Akibatnya penyair bukan sekedar melukiskan apa yang ia amati atau ia rasakan, tetapi juga memberikan penilaian, kritik, pemikiran, dan sebagainya terhadap apa yang menyentuh kesadaran estetik dan kritisnya itu.

Dalam proses penciptaan puisi terdapat berbagai sikap penyair dalam menghadapi realitas sebagai bahan: pertama, penyair sebatas merekam peristiwa atau fenomena alam; kedua, penyair memakai realitas sebagai media untuk mengungkapkan gagasan atau perasaan tertentu; ketiga, gagasan diungkapkan oleh penyair secara telanjang dan terbuka, dan keempat, gagasan atau realitas diungkapkan dengan mendayagunakan potensi bahasa yang unik dan menarik.

Akhirnya, itulah dia beberapa hal yang perlu dan bisa diperhatikan terkait cara membuat atau menulis puisi. Pada saat kalian mulai belajar menulis puisi, kalian mungkin saja akan terpengaruh gara penyair-penyair yang kebetulan menjadi idola kalian. Tetapi, pengaruh itu jagan sampai melekat terlalu lama pada diri kalian. Setelah kalian menguasai secara teknis dan rasa puitika kalian sudah benar-benar tergarap, kalian harus dapat menemukan gaya pribadi yang membedakan kalian dengan gaya penyair yang lain.

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana cara menulis puisi itu harusnya dijawab dengan banyak praktik dari orang yang berkeinginan menjadi penyair. Ada sebuah “dokterin” yang Darmanto Yt. saat dia bertindak sebagai instruktur pada Lokakarya Penulisan Puisi di Fakultas Sastra Budaya, Universitas Diponegoro Semarang, pada tahun 1980. “Dokterin” itu berbunyi:

“Sajak harus dibuat, secukupnya saja. Tidak berlebihan dalam bentuk, isi, maupun kesan yang ditimbulkannya. Jika fisiknya berlebihan ia dapat mengaburkan arti puisi itu sendiri. (walaupun soal panjang pendek itu relatif). Jika isinya berlebihan, ia mengingkari esensi puisi itu sendiri, bahwa menyampaikan banyak hal dengan sesingkat mungkin. Jika kesan atau pesonanya menjadi berlebihan ia akan menjadi bombas, tidak wajar dan memuakkan. Menjaga untuk memperoleh hasil yang maksimal, tanpa harus berkelebihan itulah seni yang paling utama dalam menulis puisi. Justru dari sinilah, pertanyaan, bagaimanakan cara menulis puisi itu mulai dijawab (Sadono SY., 1980).”

Sebenarnya tidak ada teori penciptaan puisi secara khusus. Namun puisi memiliki peralatan-peralatan yang bersifat umum. Nah, hal ini yang bisa dikaji sebagai bekal perjalanan kreativitas kita dalam penyusunan puisi. Bekal itu meliputi: apa bahan puisi, bagaimana bahasa puisi, bagaimana bentuk ekspresi puisi, dan bagimana bahan itu dikembangkan. Secara keseluruhan, praktik yang banyaklah yang akan menjadikan kalian seorang penyair. Dan pesan terakhir dari Om jika kalian ingin menjadi seornag penyair adalah, banyak-banyaklah membaca puisi. Mari jaga semangat menulis. Semoga bermanfaat. Selamat menikmati hari.

5 Comments
    • Om Pedia
    • Om Pedia

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *