Bunyi Pasal 20 UUD 1945 (1-5) dan Pembahasannya

Palu Hukum
Pasal 20 UUD 1945 – Salam Cerdas pembaca yang mencintai bangsanya. Apa kabar? Apakah hari ini sahabat pembaca sudah menjadi warga negara yang baik? Undang-undang Dasar 1945 atau disingkat UUD 1945 merupakan hukum dasar tertulis pemerintahan negara Republik Indonesia saat ini. Maka sebagai warga negara sudah sepatutnya kita memiliki pengetahuan yang cukup tentang pasal-pasal yang menjadi dasar negara kita, sehingga kita tahu hak dan kewajiban yang kita miliki selama menjadi salah satu Warga Negara Indonesia. bukan begitu?

Jauh sebelum ini pak tua sudah pernah membahas mengenai Pasal 33 UUD 1945 (1-5) dan Pembahasannya yakni sebuah pasal tentang Pemanfaatan SDA, dan Perekonomian Nasional. Maka, pada kesempatan yang menyenangkan ini, Pak Tua akan kembali membahas salah satu pasal dalam UUD 1945. Ialah Pasal 20 UUD 1945 yang mengatur peran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Presiden, dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam pembentukan undang-undang.

Kita akan terlebih dahulu melihat bunyi dari setiap pasal yang terkandung dalam Pasal 20 UUD 1945 (amendemen ke 4)

  • Ayat 1

Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang.

  • Ayat 2

Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama.

  • Ayat 3

Jika rancangan undang-undang itu tidak mendapat persetujuan bersama, rancangan undang-undang itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu.

  • Ayat 4

Presiden mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi undang-undang.

  • Ayat 5

Dalam hal rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu tiga puluh hari semenjak rancangan undang-undang tersebut disetujui, rancangan undang-undang tersebut sah menjadi undang-undang dan wajib diundangkan.

Setelah melihat bunyi Pasal 1-5 diatas, kita dapat memahami bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memiliki wewenang dan kekuasaan untuk membentuk sebuah Undang-Undang. Dimana rancangan Undang-Undang bisa didapat dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Presiden, dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Rancangan Undang-Undang akan dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama.

Jika sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) tidak mendapatkan persetujuan maka Rancangan Undang-Undang itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masa itu. Jika Rancangan Undang-Undang (RUU) telah di setujui bersama maka Presiden akan mengesahkan Rancangan Undang-Undang menjadi Undang-Undang. Dan Jika dalam waktu 30 hari setelah Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden maka Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan.

Itu dia sedikit pembahasan yang bisa pak tua sajikan. Apakah sahabat pembaca bisa mengambil intisarinya? Semoga pemahaman ketatanegaraan tepatnya mengenai pembentukan undang-undang yang terkandung dalam bahasan diatas dapat menjadi pengetahuan tambahan serta dapat ter-manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari sahabat pembaca. Kita tutup tulisan kali ini dengan “Salam hangat Pak Tua”.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *