Apa dan Bagaimana Novel Bestseller?

Novel Bestseller – Selamat pagi Anak-anak Alam! Selamat menikmati hari ini. Untuk membuka undangan kali ini Om ingin bertanya pada kalian, apa kalian suka membaca novel? Novel yang seperti apa? Jika jawabannya adalah iya, kalian suka membaca, dan novel yang kalian sukai adalah novel-novel dengan label “Best Seller” di sampulnya, maka tentang itulah undangan Om kali ini.

Ini cukup menarik, sewaktu diperjalanan Om beberapa kali bertemu dengan penggemar novel. Ketika Om bertanya bagaimana cara mereka memilih novel yang bagus, jawabannya selalu karena isinya. Dan yang membuat Om bingung, bagaimana mereka tahu isi novel itu sebelum membeli? Katanya dari saran teman-teman yang juga membaca novel itu. pertanyaan yang sama, dari mana teman-temannya tahu sebagus apa isi novel itu?

Kemudian lahirlah sebuah novel best seller, salah satunya karena hal yang Om ceritakan di atas. Larisnya sebuah novel dipasaran hingga mendapat predikat “Best Seller” masih menjadi misteri sampai sekarang. Apakah itu murni karena isi novelnya? Teknik penjualan? Atau keberuntungan? Sedikit kompleks mungkin, untuk itu mari kita coba membahas apa dan bagaimana novel bestseller itu, mulai dari…

Pengertian Novel Best Seller

Sesuai namanya, novel best seller adalah novel yang penjualannya laris manis alias sesuai atau malam sudah melebihi target penjualan. Sejauh ini, menurut Om pribadi, ini hanyalah salah satu teknik pemasaran oleh penerbit. Coba bandingkan, dua novel dengan kualitas sama, salah satunya dengan predikat “Best Seller” di sampulnya, dan yang satu lagi tidak. Novel mana yang akan kalian pilih? Tentu novel yang berpredikat best seller bukan.

Contoh lain adalah novel Supernova karangan Dewi “Dee” Lestari, dan Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer. Kesemua novel itu adalah novel bagus namun tidak mencantumkan predikat “Best Seller” pada tubuh novelnya sampai sekarang. Namun, siapa yang tidak tahu novel Supernova? Atau bahkan Tetralogi Buru yang disebut sebagai salah satu novel canon, novel terbaik.

Terlepas dari penyematan logo best seller pada cover novel, dan terlepas juga dari isi novel-novel itu. Secara spekulatif novel-novel best seller memang benar adalah novel pilihan dari penerbit. Tapi yang menjadi pertanyaan juga adalah, editor juga tidak memiliki kemampuan lebih (mereka bukan dukun kan) untuk tahu novel mana yang benar-benar akan laku keras dan diterima oleh konsumen pembaca.

Mungkin memang benar ada novel yang ditakdirkan untuk menjadi best seller, seperti novel Harry Potter and The Chamber of Secret. Tapi ini juga karena efek halo dari novel sebelumnya, yaitu Harry Potter and The Philosopher’s Stone. Masalahnya, siapa yang tahu novel pertama Harry Potter itu akan laku keras?

Ciri-ciri Novel Best Seller

Sebenarnya jika dikatan ini adalah ciri-ciri novel best seller, maka tidak persis seperti itu juga, karena penulisan novel sendiri adalah kebebasan setiap pengarang. Tapi ini adalah garis besar unsur-unsur intrinsik yang biasanya terkandung dalam novel-novel best seller, kita mulai dari…

  • Mengangkat cerita yang unik dengan tema yang tidak bisa. Atau sederhananya, memiliki unsur kebaruan dibandingkan novel-novel mainstream lainnya.
  • Gaya bahasa penulisan terstruktur (Plot terarah) dan mudah dimengerti oleh kalangan pembaca manapun.
  • Ending yang memukai dan mempunyai harapan dapat memuaskan pembaca
  • Penggambaran karakter tokoh dilakukan dengan kuat. Tidak seperti di novel-novel mainstream lainnya.
  • Masalah yang ditawarkan digambarkan serealistis mungkin dan dekat dengan kenyataan di masyarakat.
  • Memiliki pesan moral di dalamnya, baik tersirat maupun tersurat.
  • Tokoh-tokoh dan ceritanya sendiri membuat pembaca dapat mengidentifikasikan kehidupan mereka sendiri kedalam cerita sehingga terjadi ikatan emosional antara bacaan dan yang membaca.

Dan Kenyataannya

Apa kalian pernah merasa, novel karangan penulis luar negri sering kali lebih bagus dari novel karangan penulis Indonesia? Ada beberapa hal yang dapat menjawab pertanyaan ini

Yang pertama, novel-novel karangan penulis luar negri yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah novel-novel terbaik di sana. Dan oleh penerbit diambil kesempatan efek halo dari ketenaran di Negara asli tempat novel itu di sini, di Indonesia, dengan harapan akan mendapatkan respon yang sama. Tapi ini sebenarnya tidak selalu berakhir baik, banyak novel bagus di luar negri menjadi tidak ada harganya di sini, ada beberapa faktor, antara lain terjemahan yang tidak dilakukan dengan benar dan terkesan lebih parah dari hasil terjemahan Google Translate (Untuk para penerjemah: Berhentilah merusak kualitas tulisan seseorang dengan cara seperti ini), yang kedua, karena kedekatan emosional pembaca tidak cocok dengan tema novel tersebut. Apa kalian pikir novel twilight yang bercerita tentang kisah cinta melankolis vampire dan manusia itu benar-benar laris di Indonesia?

Yang kedua, tingkat intelektualitas penulis akan berpengaruh pada hasil tulisannya sendiri. Di luar negri, rata-rata masyarakatnya ketika dibangku sekolah diwajibkan untuk membaca 5-10 novel sastra murni yang berkualitas setiap tahunnya. Dan karena kualitas novel bacaan semasa perkembangan kognitif penulis akan berpengaruh terhadap cara menulis dan hasil tulisannya kelak kalian bisa memahami sendiri pernyataan Om ini. Di Indonesia sendiri kualitas bacaan agak tidak diperhatikan, karena kebanyakan pembaca hanya membaca untuk mengisi waktu luang. Ini memenuhi aspek membaca untuk kesenangan semata. Jika ada kesempatan, silahkan kalian bandingkan sendiri remaja Indonesia (atau ini termasuk kalian) yang membaca novel teenlit atau sejenisnya dengan yang membaca novel sastrawi.

Om pernah bertemu dengan seseorang yang mengatakan ingin menjadi penulis novel, tapi ketika Om bertanya tentang novel bacaannya, dia menjawab tidak terlalu suka membaca novel-novel itu. Jadi ini berawal dari hal sepele, dia (orang yang Om temui itu) melihat sebuah novel, membuka sedikit lembar pertama, dan dengan alasan-alasan yang tak pasti, merasa bisa menulis lebih baik dari itu. dan ini adalah sebuah bentuk kepercaya-dirian yang berlebihan (dan tentu saja ini tidak baik).

Itulah alasan kenapa novel luar negri memiliki potensi yang terkadang lebih baik dari novel karangan penulis Indonesia sendiri. Selain itu, keseriusan dalam proses melahirkan karya tersebut juga menjadi faktor pendukung yang lain. Jika kalian adalah penulis, maka selama kalian menulis benar-benar untuk keindahan dan melakukannya dengan serius, untuk mempersembahkan yang terbaik, bukan untuk sekedar memenuhi aspek kapital, maka Om akan mendukung kalian.

Dan pertanyaan untuk kalian hari ini adalah

Kalian ingin mengisi kapasitas otak kalian dengan bacaan seperti apa?

Akhirnya, itulah undangan Om kali ini. Kalian ambillah sudut pandang, mengerti, dan benarkan apapun yang kalian pikirkan setelah ini. Dan satu hal lagi tentang membaca novel berkualitas. Karena kalian adalah cermin bagi bacaan kalian, maka isi dari novel-novel yang kalian baca akan merefleksikan dirinya pada diri kalian bukan? Semoga bermanfaat, selamat menikmati hari ini.

Artikel Berkaitan

11 thoughts on “Apa dan Bagaimana Novel Bestseller?

  1. saya bingung om pedia, saat ini saya sedang mengarang tulisan novel romance, tetapi saya takut novel saya ini tidak bisa memikat hati para readers. dan juga saya terkadang masih bingung bagaimana dan pokok-pokok apa saja yg akan saya tuliskan di novel saya ini om pedia. saya masih pemula

    View Comment
    1. Hallo Natasya, terimakasih sudah berkunjung Ada yang bilang, menulislah dengan jujur. Setidaknya, itu berarti kita telah jujur pada diri sendiri. Jangan takut. Om kira orang-orang masih lebih suka orang jujur. Selamat bekerja dengan naskahnya. Semangat!

      View Comment
  2. Assalamualaikum om… Tulisan yg sangatt menarikk. Saking menarik.y sy ingin dpt ilmu yg lebih lg dr om tentang menulis. Lewat apa kita bisa sharing ? Bila om punya komunitas menulis saya daft omm. .

    View Comment
    1. Hallo Fenny, terimakasih sudah berkunjung. Apa Fenny tinggal di Lombok? Kalau iya, jika tertarik, datanglah ke Taman Budaya NTB setiap hari senin jam 4 sore. Ada komunitas Akarpohon di sana. Semoga membantu.

      View Comment
  3. setujuh! kalau dulu saya sangat doyan baca novel2 teenlit dan personal literature komedi, sekarang sudah lebih ‘dewasa’ genrenya. Membaca novel bukan lagi hanya untuk penyegar batin atau pelarian dari kenyataan, tapi sudah mulai sebagai pembelajaran dan perenungan.
    Di Indonesia sudah banyak penulis berkualitas, tapi yang menyukai genre mereka (mungkin) yang masih sedikit…
    Bicara soal best seller, bisa jadi juga pengaruh dari seorang penulis yang ‘sudah punya nama’~ hanya opini pembaca saja..
    tapi saya bukan tipe pembaca yang gila akan lebel best seller itu, he he
    karena yang baca buku best seller cukup mainstream,sy malah lebih puas ketika membaca buku yang tidak berlabel demikian namun kualitas tulisannya mumpuni da berbobot. Bukankah banyak yang begitu, ya?
    saya agak banyak setuju dengan undangan Om yang ini

    View Comment
    1. Hallo Amira, terimakasih sudah berkunjung Tidak bisa dipungkiri penerbitan buku juga punya tujuan komersilnya sendiri. Tujuan komersil itu tentu saja dikendalikan oleh pasar. Untuk mengecek kualitas pasar, sederhananya kita bisa lihat buku apa yang paling banyak diterbitkan dan ada di toko buku. Tapi sekarang ada kabar gembira karena penerbitan buku sastra mulai marak. Penerbit berlomba-lomba menerbitkan sastra klasik dan lain-lain, yang artinya, secara sederhana, pasar mulai sadar literasi. Kabar yang membahagiakan untuk Om dan semoga juga Amira. Senang mendengar ada orang yang berpikiran seperti Amira, salam kenal dan selamat datang.

      View Comment
  4. Saya yakin, tulisan om ini banyak membawa perubahan pada diri saya. Saya menjadi serius menulis, dan do’akan ya om untuk tujuan saya ini. Jazzakallah bi ahsanul jazza. Semoga menjadi kebaikan yang pahalanya sepanjang masa. Aamiin

    View Comment
    1. Terimakasih Lestari Om percaya, segala hal yang dilakukan dengan serius akan menghasilkan sesuatu yang “berdampak” serius juga. Terlebih menulis, karena menulis itu adalah kerja untuk keabadian katanya. Tulislah kebaikan, maka kebaikan itu akan abadi. Semoga niat baiknya Lestari berbuah manis pada akhirnya, amin karena kita adalah anak-anak alam, maka bersyukurlah.

      View Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

Loading Facebook Comments ...